psikologi keberanian mencoba makanan ekstrem
antara rasa jijik dan rasa penasaran
Bayangkan kita sedang duduk santai di sebuah pasar malam di Bangkok, atau mungkin di sebuah desa pesisir di Gunungkidul. Di meja depan kita, terhidang sepiring belalang goreng yang masih lengkap dengan kaki-kakinya yang bergerigi. Atau mungkin sate kalajengking yang hitam legam. Sebagian dari kita mungkin akan langsung merinding dan merasa mual. Namun, di saat yang bersamaan, tidak sedikit dari kita yang diam-diam menelan ludah, memegang garpu, dan berpikir, "Rasanya kayak apa, ya?" Pernahkah kita berada di situasi membingungkan seperti itu? Terjebak di sebuah ruang sempit antara rasa jijik yang luar biasa, tapi juga rasa penasaran yang tidak kalah hebatnya. Menghadapi makanan ekstrem bukan sekadar soal selera atau seberapa lapar perut kita. Ini sebenarnya adalah panggung pertarungan psikologis dan biologis paling purba yang terjadi di dalam otak manusia.
Untuk memahami peperangan di dalam kepala ini, kita perlu mundur sejenak melihat sejarah evolusi kita. Secara biologis, rasa jijik atau disgust bukanlah kelemahan. Sebaliknya, ia adalah sistem alarm paling mutakhir yang dimiliki manusia. Sistem ini dirancang oleh alam untuk satu tujuan sederhana: mencegah kita mati konyol karena keracunan. Saat leluhur kita melihat daging busuk, mencium bau menyengat, atau melihat sesuatu yang berlendir, otak mereka langsung memicu respons mual. Psikolog evolusioner menyebut mekanisme ini sebagai behavioral immune system. Ini adalah cara tubuh berteriak, "Jangan dimakan, atau kita tamat!" Tapi, di sinilah letak ironinya. Manusia adalah makhluk omnivora. Kita butuh nutrisi dari berbagai macam sumber daya alam untuk bertahan hidup. Kita dihadapkan pada apa yang disebut oleh para ilmuwan sebagai the omnivore's dilemma atau dilema omnivora. Di satu sisi, kita harus terus mencari dan mencoba makanan baru agar tidak mati kelaparan. Di sisi lain, setiap makanan baru yang belum pernah kita kenal berpotensi membunuh kita. Di dalam diri kita, rasa takut pada hal baru (neofobia) selalu bertarung sengit melawan cinta pada hal baru (neofilia).
Lalu, sebuah pertanyaan besar muncul. Kalau rasa jijik adalah tameng pelindung utama kita, kenapa kita justru sering merusaknya? Kenapa ada orang yang rela terbang jauh-jauh ke Islandia hanya untuk memakan hákarl—daging hiu yang difermentasi berbulan-bulan sampai baunya menyengat hidung? Atau kenapa kita suka menantang diri mengunyah cabai terpedas sampai menangis dan perut mulas? Logikanya, kalau tubuh sudah memberi sinyal bahaya, kita seharusnya lari menjauh. Namun, manusia tampaknya punya hobi psikologis yang cukup aneh. Seorang psikolog bernama Paul Rozin punya istilah yang sangat tepat untuk fenomena ini. Ia menyebutnya benign masochism atau masokisme ringan. Pada dasarnya, kita menikmati sensasi negatif—seperti takut, jijik, atau sakit—karena jauh di lubuk hati, kita tahu bahwa kita sebenarnya aman. Konsepnya sama persis seperti saat kita menjerit di wahana rollercoaster atau menutup mata saat menonton film horor. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi di dalam saraf otak saat lidah kita menyentuh makanan ekstrem itu? Mengapa rasa panik tiba-tiba bisa berubah menjadi kepuasan yang membuat ketagihan?
Di sinilah sains saraf atau neuroscience menyingkap rahasia terbesarnya. Saat kita nekat memasukkan makanan ekstrem ke dalam mulut, tubuh kita sebenarnya sempat panik. Sistem saraf simpatik kita menyala terang benderang. Jantung berdebar lebih cepat, napas memburu, dan adrenalin terpompa deras. Tubuh kita bersiap siaga menghadapi racun. Namun, beberapa detik kemudian, saat kita mengunyah dan menelan tanpa mati tersedak, otak bagian korteks prefrontal—pusat logika dan analisis kita—menyadari satu hal yang sangat penting. "Tunggu dulu, ternyata ancaman ini palsu." Saat otak menyadari bahwa kita selamat, terjadi sebuah keajaiban biologis. Otak kita langsung membanjiri sistem saraf dengan dopamin dan endorfin. Kedua hormon inilah yang bertugas sebagai molekul penghargaan dan pereda nyeri. Pergeseran mendadak dari rasa panik yang mencekam menjadi rasa aman inilah yang menciptakan sensasi euforia luar biasa. Kita merasa menang karena berhasil menaklukkan insting dasar kita sendiri. Ditambah lagi, ada faktor budaya dan sosial. Apa yang dianggap ekstrem oleh kita, sering kali adalah menu sarapan biasa di belahan dunia lain. Keberanian kita menelan makanan ekstrem pada akhirnya juga menjadi alat pembuktian diri, sebuah validasi sosial bahwa kita adalah penjelajah yang berani dan berpikiran terbuka.
Pada akhirnya, keberanian kita untuk mencicipi makanan yang aneh-aneh adalah bukti betapa rumit dan menariknya menjadi manusia. Kita bukanlah sekadar mesin biologis yang hanya digerakkan oleh insting bertahan hidup buta. Kita adalah makhluk yang penuh dengan rasa ingin tahu, yang bersedia merasakan sedikit ketidaknyamanan—atau bahkan rasa mual—demi sebuah pengalaman baru dan cerita yang bisa dibagikan kepada orang lain. Jadi, teman-teman, saat suatu hari nanti kita dihadapkan pada sepiring hidangan lokal yang membuat dahi berkerut, tidak apa-apa jika kita merasa jijik mundur selangkah. Itu hanyalah jejak evolusi jutaan tahun yang sedang bekerja menjaga nyawa kita. Tapi, kalau tiba-tiba ada dorongan kecil yang membisikkan rasa penasaran untuk mengunyahnya, ketahuilah bahwa itu adalah otak kita yang sedang bersiap merayakan sebuah kemenangan kecil. Karena kadang-kadang, penemuan paling berkesan dalam hidup tidak terjadi di laboratorium besar, melainkan di ujung lidah kita sendiri.